hukum.umsida.ac.id. – Bagi sebagian generasi muda, hukum sering dipersepsikan sebagai sesuatu yang kaku, penuh pasal, dan jauh dari kehidupan sehari-hari.
Buku undang-undang yang tebal, istilah hukum yang rumit, serta proses peradilan yang formal kerap membuat hukum terasa menakutkan. Padahal, hukum sesungguhnya sangat dekat dengan realitas sosial dan dinamika kehidupan masyarakat.
Di era digital, film dan series hadir sebagai medium populer yang mampu menjembatani pemahaman hukum dengan cara yang lebih ringan dan kontekstual.
Melalui cerita, konflik, dan karakter yang kuat, film dan series bertema hukum dapat menjadi sarana edukasi yang efektif, khususnya bagi Gen Z yang akrab dengan budaya visual dan platform streaming.
Film dan Series sebagai Media Edukasi Hukum
Media audiovisual memiliki kekuatan dalam membangun empati dan pemahaman. Cerita hukum yang divisualisasikan mampu menunjukkan bagaimana hukum bekerja dalam praktik, bukan sekadar teori.
Mulai dari proses penyelidikan, persidangan, hingga dilema etika para penegak hukum, semua disajikan secara naratif dan menarik.
Pakar komunikasi hukum Prof. Hibnu Nugroho menyebut bahwa film hukum dapat menjadi pintu masuk literasi hukum bagi masyarakat.
“Film dan series hukum membantu publik memahami nilai keadilan, prosedur hukum, dan konsekuensi pelanggaran hukum dengan cara yang lebih membumi,” ujarnya.
Bagi Gen Z, pendekatan ini menjadi alternatif belajar hukum yang tidak monoton.
Baca juga: Penelitian UMSIDA Soroti Regulasi Alih Fungsi Lahan Hunian Jadi Tempat Ibadah di Sidoarjo
“Suits”: Dunia Hukum Korporasi yang Penuh Strategi
Salah satu series hukum yang populer di kalangan anak muda adalah Suits. Series ini mengangkat dunia hukum korporasi dengan konflik seputar firma hukum elit, negosiasi bisnis, dan strategi litigasi.
Meski bersifat dramatis, Suits memberikan gambaran tentang pentingnya logika hukum, kecerdasan analisis, dan etika profesional.
Tokoh Harvey Specter dan Mike Ross memperlihatkan bahwa profesi hukum tidak hanya soal hafalan pasal, tetapi juga kemampuan berpikir kritis dan mengambil keputusan.
Bagi mahasiswa hukum, series ini dapat menjadi inspirasi sekaligus refleksi tentang tantangan etika dalam praktik hukum.
Lihat juga: Debut di Arena Taekwondo, Mahasiswi Semester 1 Umsida Ini Langsung Rebut Emas
“How to Get Away with Murder”: Hukum, Moral, dan Konsekuensinya
Series How to Get Away with Murder menghadirkan sisi gelap dunia hukum melalui kisah dosen hukum pidana dan mahasiswanya yang terlibat dalam kasus kejahatan serius.
Series ini menyoroti bagaimana hukum, moral, dan kepentingan pribadi sering kali bertabrakan.
Meski penuh dramatika, series ini mengajarkan bahwa kecerdasan hukum tanpa integritas dapat membawa konsekuensi fatal. Pakar hukum pidana Dr. Eddy O.S. Hiariej pernah menegaskan bahwa hukum tidak bisa dilepaskan dari moralitas.
“Pengetahuan hukum yang tidak dibarengi etika hanya akan melahirkan pelanggaran hukum yang terstruktur,” ungkapnya.
Series ini cocok untuk Gen Z agar memahami bahwa hukum bukan sekadar alat, melainkan tanggung jawab moral.
“The Trial of the Chicago 7”: Hukum dan Politik
Film The Trial of the Chicago 7 menampilkan proses peradilan yang sarat kepentingan politik. Film ini menggambarkan bagaimana hukum dapat dipengaruhi oleh kekuasaan dan bagaimana peradilan seharusnya menjadi ruang pencarian keadilan, bukan alat represi.
Melalui film ini, penonton diajak memahami pentingnya independensi peradilan dan hak atas peradilan yang adil (fair trial). Nilai-nilai tersebut relevan bagi mahasiswa hukum sebagai calon penjaga keadilan di masa depan.
“12 Angry Men”: Keadilan dalam Ruang Musyawarah
Film klasik 12 Angry Men menjadi salah satu film hukum yang paling direkomendasikan sepanjang masa. Cerita sederhana tentang dua belas juri yang menentukan nasib seorang terdakwa justru menyimpan pesan hukum yang mendalam.
Film ini menekankan pentingnya asas praduga tak bersalah dan pertimbangan rasional dalam pengambilan keputusan hukum.
Meski dibuat puluhan tahun lalu, pesan film ini tetap relevan hingga kini. Ia mengajarkan bahwa keadilan tidak ditentukan oleh mayoritas, melainkan oleh kebenaran dan nurani.
“Extraordinary Attorney Woo”: Hukum dan Inklusivitas
Series Korea Extraordinary Attorney Woo menghadirkan perspektif berbeda dalam dunia hukum. Tokoh utama digambarkan sebagai pengacara dengan spektrum autisme yang memiliki kecerdasan luar biasa.
Series ini tidak hanya membahas kasus hukum, tetapi juga isu inklusivitas, diskriminasi, dan hak penyandang disabilitas.
Bagi Gen Z, series ini menjadi pengingat bahwa hukum harus berpihak pada semua kelompok masyarakat, termasuk mereka yang sering terpinggirkan. Hukum bukan hanya soal aturan, tetapi juga tentang kemanusiaan.
Literasi Hukum Lewat Budaya Populer
Menonton film dan series hukum tidak bisa menggantikan pembelajaran akademik secara formal. Namun, media ini dapat menjadi pelengkap yang memperkaya perspektif.
Dengan pendekatan cerita, penonton diajak berpikir kritis, memahami konflik hukum, serta menyadari dampak nyata dari penegakan hukum.
Tantangan: Memilah Fakta dan Fiksi
Meski edukatif, film dan series hukum tetap mengandung dramatisasi. Oleh karena itu, Gen Z perlu memiliki sikap kritis dalam menontonnya.
Tidak semua prosedur hukum yang ditampilkan sesuai dengan praktik nyata. Di sinilah peran pendidikan hukum untuk meluruskan pemahaman dan membedakan antara fakta dan fiksi.
Mahasiswa hukum diharapkan tidak hanya menikmati cerita, tetapi juga mampu mengkritisi alur hukum yang disajikan.
Menjadikan Hiburan sebagai Sarana Belajar Hukum
Rekomendasi film dan series hukum dapat menjadi pintu masuk yang menyenangkan bagi Gen Z untuk mengenal dunia hukum.
Dari ruang sidang hingga dilema etika, semua disajikan dalam bentuk cerita yang relevan dengan kehidupan modern.
Dengan pendekatan ini, hukum tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang jauh dan menakutkan, melainkan sebagai bagian dari kehidupan yang harus dipahami dan dijalani secara bertanggung jawab.
Bagi mahasiswa hukum, menonton film dan series hukum bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana refleksi untuk menjadi insan hukum yang berintegritas dan berkeadilan.
Penulis: Salwa Rizky Awalya

















