hukum.umsida.ac.id. – Prestasi mahasiswa tidak selalu lahir dari perjalanan yang mulus. Terkadang, jeda dan kegagalan justru menjadi titik awal kebangkitan.
Hal inilah yang tercermin dari perjalanan Dwi Langen Widi Cahyono, mahasiswa Program Studi Hukum Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida), yang kembali menorehkan prestasi di dunia bela diri karate setelah sempat vakum selama beberapa tahun.
Sejak duduk di bangku Sekolah Dasar (SD), Dwi telah mengenal dan menekuni karate. Konsistensi yang sempat terhenti tidak membuatnya menjauh, justru menjadi pemicu semangat untuk kembali bangkit dan membuktikan diri.
Pada ajang Batu Karate Challenge Series Open Tournament, Dwi kembali menapakkan langkahnya di arena pertandingan dengan tekad baru sebagai mahasiswa berprestasi.
Motivasi Bangkit dan Mencatatkan Prestasi Kampus
Keikutsertaan Dwi dalam turnamen ini dilandasi oleh keinginan kuat untuk mengembalikan performa terbaiknya setelah beberapa tahun vakum.
Bagi Dwi, masa jeda bukanlah penghalang, melainkan cambuk semangat untuk kembali berlatih lebih keras.
Ia memiliki tujuan jelas, yakni ingin mencatatkan namanya sebagai mahasiswa berprestasi di lingkungan kampus dan menorehkan prestasi yang membanggakan. Turnamen ini menjadi langkah awal dalam perjalanan comeback-nya di dunia karate.
Baca juga: Jadi Anak Hukum Bukan Cuma Ngafalin Pasal: Soft Skill Penting untuk Gen Z
Persiapan Disiplin: Latihan, Fisik, dan Doa
Menjelang pertandingan, Dwi menjalani persiapan yang disiplin dan terstruktur. Ia rutin melakukan latihan teknik karate di kampus, sekaligus menambah porsi latihan fisik secara mandiri di rumah.
Keseimbangan antara teknik dan kondisi fisik menjadi fokus utama agar performa di arena tetap optimal.
Tak hanya itu, Dwi juga menegaskan pentingnya doa dalam setiap proses yang dijalani. Baginya, usaha yang maksimal harus selalu dibarengi dengan kepercayaan dan ketenangan batin.
Tantangan Jarak dan Mental Bertanding

Dalam proses latihan, tantangan terbesar yang dihadapi Dwi adalah melawan rasa malas, terutama karena jarak rumahnya di Mojokerto yang cukup jauh dari kampus. Perjalanan menuju tempat latihan menjadi ujian konsistensi dan komitmen.
Sementara itu, tantangan di arena pertandingan lebih banyak berkaitan dengan mental bertanding. Menurutnya, kekuatan mental tidak datang secara instan, melainkan dibentuk sejak proses latihan. Ketahanan mental inilah yang menentukan sikap atlet saat menghadapi tekanan dan hasil pertandingan.
Lihat juga: Tampil Percaya Diri di Ajang Provinsi, Mahasiswi Umsida Raih 2nd Runner Up Miss Jawa Timur 2025
Menjaga Keseimbangan Kuliah dan Latihan
Sebagai mahasiswa Prodi Hukum, Dwi tetap menjadikan perkuliahan sebagai prioritas utama. Ia berusaha menjaga keseimbangan antara latihan dan akademik dengan menetapkan skala prioritas yang jelas.
Ketika mendekati waktu pertandingan, porsi latihan memang ditingkatkan, namun tanpa meninggalkan kewajiban perkuliahan.
Prinsip ini menjadi pegangan agar prestasi nonakademik tetap sejalan dengan tanggung jawab akademik.
Antara Kemenangan dan Kekecewaan
Dwi mengungkapkan bahwa perjalanan bertanding selalu diwarnai perasaan yang beragam. Ada rasa bahagia ketika berhasil meraih juara, namun ada pula rasa kecewa ketika harus puas di posisi ketiga.
Menariknya, rasa kecewa tersebut justru menjadi pemantik semangat. Bagi Dwi, kegagalan bukan akhir, melainkan sinyal bahwa ia harus berlatih lebih giat agar mampu meraih hasil yang lebih baik di kesempatan berikutnya.
Nilai Kehidupan dari Karate
Karate mengajarkan Dwi banyak nilai kehidupan, terutama tentang jatuh dan bangkit kembali. Ia belajar tentang resiliensi, yaitu kemampuan untuk pulih dari kegagalan, belajar dari kesulitan, lalu berdiri kembali dengan lebih kuat.
Selain itu, karate juga menanamkan nilai kekeluargaan yang erat. Dalam cabang olahraga ini, atlet diajarkan untuk saling peduli, menghormati, dan mendukung satu sama lain, baik di dalam maupun di luar arena.
Karate sebagai Perjuangan Tanpa Menyerah
Bagi Dwi, karate adalah simbol perjuangan untuk mencapai keberhasilan meskipun kegagalan datang berulang kali.
Ia memaknai karate sebagai proses pembentukan diri, sejalan dengan kutipan Tan Malaka, “Terbentur, terbentur, dan terbentuk.”
Harapan dan Target ke Depan
Ke depan, Dwi berharap dapat kembali menjadi juara di tingkat nasional maupun internasional. Ia juga menargetkan bisa lolos dan mewakili cabang olahraga karate Umsida dalam ajang POMPROV. Dengan semangat bangkit dan tekad yang kuat, Dwi optimistis mampu melangkah lebih jauh dan membawa nama baik kampus.
Penulis: Salwa Rizky Awalya

















